Membangun Masyarakat Madani Berbasis Masjid
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur dan tahmid kepada Allah subhanahu wata'ala atas perkenan-Nya maka hari ini kita bisa hadir di Masjid Istiqlal ini untuk menunaikan kewajiban kita sebagai umat Islam. Selawat dan taslim senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi yang dikenal dalam sejarah sebagai The Best Leader dan The Best Manager serta menancapkan sendi sendi masyarakat madani, yang memberikan kemerdekaan dan kesetaraan kepada segenap warga masyarakat tanpa diskriminasi berdasarkan kelas dan status sosial.
Ma’asyiral muslimin yang berbahagia
Pengertian sederhana dari masyarakat madani ialah ketika masyarakat dan negara berbagi di dalam menentukan perjalanan bangsa dan bersama-sama menyelesaikan problem yang terjadi di dalam masyarakat. Dalam masyarakat madani negara dan masyarakat tidak over acting dan saling menyingkirkan satu sama lain. Dengan kata lain, obsesi masyarakat madani ialah mewujudkan masyarakat yang adil dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kelas dan status sosial tetapi siapa yang paling bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'ala, sebagaimana ditegaskan dalam ayat:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat/49: 13).
Ayat ini menjelaskan apapun jenis kelaminnya dan etnik manapun tidak terlalu penting penting, yang paling penting ialah ketaqwaannya kepada Allah subhanahu wata'ala. Ayat ini menekankan prinsip egalitarian dan kesetaraan sosial, sebagaimana dipraktekkan beliau selama menjadi pemimpin masyarakat Madinah pada masanya.
Dalam masyarakat madani yang dibangun Nabi, agama tetap memberi ruang pada untuk hal-hal yang bersifat profan seperti nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Namun nilai-nilai tersebut tetap harus paralel dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam. Masyarakat tidak perlu dipisahkan dengan kearifan lokalnya atas nama agama. Sebaliknya ajaran agama juga tidak perlu diasingkan dari masyarakat atas nama kearifan lokal. Agama tidak perlu disimpan.menjadi urusan privat dan urusan publik diselesaikan dengan cara-cara rasional-demokratis, seperti yang terjadi di dalam masyarakat sekuler. Agama tidak perlu dipisahkan apalagi diperhadap-hadapkan dengan nilai-nilai kearifan lokal, karena keduanya bisa hidup berdampingan secara paralel. Bangsa Indonesia dengan falsafah Pancasila membuktikan kemungkinan ini bisa terjadi, bahkan lebih mudah menyelesaikan berbagai persoalan konseptual seperti yang sering merepotkan sejumlah negara-negara muslim lainnya.
Masyarakat Barat yang lebih banyak dianggap sebagai pengusung prinsip sekularisme, pada akhirnya harus mengakui bahwa peran agama sangat besar dalam proses demokratisasi. Suatu masyarakat bisa hidup berjaya di dalam sebuah negara demokrasi tanpa harus menjadi negara sekuler.
Dalam konteks NKRI, yang diperlukan adalah pengayaan variasi dan spektrum pada tingkat elemen-elemen yang memperkuat proses pencerahan atau enlightenment, seperti pada lembaga-lembaga kemasyarakatan, sebutlah misalnya, NU, Muhammadiyah, ICMI, LSM, dan Lembaga Lembaga lainnya yang mengusung civil society. Harus diakui bahwa pada setiap elemen tersebut ada nilai-nilai yang bersifat universal dan partikular. Pencerahan pada tataran visi dimaksudkan untuk menghindari adanya kecenderungan partikularistik yang sangat berorientasi pada penguatan identitas individu atau kelompok. Padahal, dalam masyarakat madani, identitas ini harus dapat di transendensikan pada komunitas universal, sehingga komunitas menjadi identitas akhir.
Masyarakat madani relatif sebagai suatu perbendaharaan kata yang sudah mulai populer di Indonesia, yang maksudnya adalah suatu masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kemerdekaan dan keterbukaan. Dari segi ini masyarakat madani menjadi sama dengan civil society meskipun dalam beberapa segi kedua istilah ini tidak identik. Jika yang dimaksud masyarakat madani seperti dijelaskan di atas, maka ada sejumlah ayat dan hadis dapat dikemukakan, antara lain sebagai berikut:
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya : “Dan bagi tiap-tiap ummat ada arah yang ia menghadap kepadanya. Maka berpaculah kamu dalam berbuat kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian” (QS. al-Baqarah/2: 148).
Ayat lain ialah :
….لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًاۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
Artinya : “Untuk setiap umat di antara kamu, kami telah beri aturan dan jalan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya kamu Ia jadikan ummat yang tunggal. Tetapi Ia hendak menguji kamu berkenaan dengan apa yang telah Ia anugerahkan kepada kamu. Maka berpaculah kamu sekalian untuk berbuat kebaikan. Kepada Allah kembalimu semua, kemudian ia akan jelaskan kepadamu tentang segala hal yang kamu pernah berselisih di dalamnya” (QS. al-Maidah/5: 48).
Demikian pula dalam ayat :
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Artinya : “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi, seluruhnya! Maka, apakah engkau (hai Muhammad) akan memaksa manusia sehingga mereka beriman semua?” (QS. Yunus/10: 99).
Demikian pula dalam ayat :
وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
Artinya : “Janganlah kamu berbantahan dengan para penganut kitab suci (ahl al-Kitab) melainkan dengan sesuatu yang lebih baik, kecuali terhadap yang zalim dari kalangan mereka. Dan nyatakanlah olehmu semua, "kami beriman kepada ajaran yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kamu, dan tuhan kami dan tuhan kamu adalah Satu, dan kita semua adalah orang-orang yang berserah diri (muslimin)” (QS. al-Ankabut/29: 46).
Ayat-ayat tersebut menjadi inspirasi terbentuknya masyarakat madani, yakni sebuah masyarakat yang mengedepankan cinta damai, kebersamaan, dan kesetaraan. Di sinilah pentingnya masjid sebagai laboratorium untuk melahirkan masyarakat madani. Di dalam komunitas masjid di situ ada imam atau pemimpin yang berwibawa, ada makmum atau rakyat yang santun, ada imamah atau konsep keimaman yang mengatur hubungan antara imam dan makmum atau antara pemimpin dan rakyat.
Orang-orang yang terbiasa shalat berjamaah di masjid seharusnya lebih mudah memahami dan menyadari indahnya kebersamaan di bawah sebuah sistem berjamaah. Shalat berjamaah adalah miniatur dalam kehidupan bermasyarakat, di dalamnya juga harus ada pemimpin yang ditaati, rakyat yang santun dan sistem yang mengatur keduanya yang harus diindahkan semua pihak. Jika imam atau pemimpin keliru maka makmum atau rakyat, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai sarana untuk menegur atau membetulkan imam. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
(Imam Besar Masjid Istiqlal dan Menteri Agama RI)
https://istiqlal.or.id/

